Dinding Beton di Jalan Raya
Dinding Beton di Jalan Raya
Ada yang bilang waktu itu uang, tapi bagi saya waktu itu adalah bensin yang habis di jalan dan tiket kereta yang selalu naik harganya. Setiap pagi sebelum ayam sempat berkokok, saya sudah memutar kunci kontra motor tua saya, meninggalkan rumah yang masih gelap dan mimpi-mimpi yang belum sempat tertidur.
Saya tidak pernah menghitung berapa liter bensin yang saya bakar setiap bulan. Saya juga tidak pernah menghitung berapa jam hidup saya yang hilang di antara stasiun kereta dan jalanan Jakarta yang tak pernah ramah. Tapi kalau ada satu hal yang saya tahu, itu adalah rasa: rasa pegal di pantat setelah setengah jam di atas motor menuju stasiun, rasa sesak di kereta yang berdesakan seperti sarden kalengan, dan rasa aneh ketika melihat rumah sendiri di kaca spion—semakin mengecil, semakin jauh, seakan-akan setiap hari saya pergi bukan untuk bekerja, tapi untuk meninggalkan sesuatu.
Rumah saya di pinggiran. Bukan pinggiran yang romantis dengan sawah dan gunung, tapi pinggiran yang praktis: perumahan murah dengan gang sempit, tetangga yang saling tahu jadwal berangkat masing-masing, dan satu-satunya hal yang bisa dibanggakan adalah jaraknya ke stasiun kereta yang cuma lima belas menit naik motor. Dari stasiun itulah perjalanan panjang dimulai.
Perjalanan saya setiap hari adalah ritual yang rumit: motor ke stasiun, kereta ke Jakarta, lalu motor lagi ke kantor. Pulangnya, motor lagi ke arah barat untuk menjemput istri, lalu ke stasiun kereta, turun kereta, dan motor lagi untuk sampai ke rumah. Total? Sekitar 6 jam. Tiga ratus enam puluh menit. Saya sudah menghitungnya berkali-kali, di saat kereta macet atau di saat berjalan pelan, dan angkanya selalu di atas lima setengah. Kadang lebih, kalau hujan atau ada demo di Sudirman. Tapi rata-rata enam jam—cukup untuk mendengar satu album musik sampai hafal liriknya, cukup untuk menyelesaikan dua episode podcast tentang topik yang bahkan saya lupa judulnya, dan cukup untuk membiarkan pikiran melayang ke tempat-tempat yang sebaiknya tidak saya kunjungi.
Di perjalanan itulah mimpi-mimpi datang. Mereka selalu datang di saat yang salah: ketika tangan sedang memegang setir motor, ketika mata harus fokus ke jalan dan rel, ketika otak seharusnya hanya mengurusi gigi persneling dan jadwal kereta. Tapi mereka datang juga, tanpa permisi. Kadang berupa ide aplikasi yang tiba-tiba muncul di kepala, kadang berupa keinginan untuk memulai kanal YouTube yang membahas hal-hal sepele yang tidak pernah dipedulikan orang, kadang hanya berupa pertanyaan sederhana: "Apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?"
Di waktu-waktu seperti itu, saya membayangkan diri saya sebagai seseorang yang lain. Seseorang yang punya waktu untuk duduk di depan laptop dan menulis kode. Seseorang yang punya energi untuk mengedit video sampai jam tiga pagi. Seseorang yang tidak pernah merasa lelah karena perjalanan panjang sebelum pekerjaan sesungguhnya dimulai. Tapi mimpi, seperti yang sudah saya pelajari dari banyak pagi di stasiun dan sore di kereta, tidak pernah tumbuh di atas aspal atau rel baja. Mereka tumbuh di tanah, di tempat yang tenang, di ruang yang cukup untuk akar-akarnya menyebar. Sedangkan di dalam kereta, yang ada hanya bau keringat puluhan orang, suara pengumuman yang selalu sama, dan rasa was-was kalau-kalau telepon dari kantor berdering menanyakan di mana posisi saya sekarang.
Saya ingat suatu pagi, stasiun seperti biasa penuh sesak, dan pengeras suara memutar lagu lama. Liriknya tentang menunggu, tentang seseorang yang berjanji akan datang tetapi tidak pernah muncul. Pada saat itu, di tengah kerumunan yang berdesakan di pintu gerbang stasiun, saya tiba-tiba merasa lagu itu untuk saya. Saya menunggu—menunggu diri saya sendiri. Menunggu versi saya yang lebih berani, yang lebih ambisius, yang tidak takut mengambil risiko. Tapi versi itu tidak kunjung muncul. Ia seperti bayangan di jendela kereta: selalu ada di sana, tetapi semakin saya menatapnya, semakin ia kabur.
Lalu saya mulai berpikir, apakah perjalanan ini memang demikian adanya—hanya ruang hampa di antara dua titik. Apakah enam jam ini hanyalah jeda yang harus dijalani, bukan bagian dari hidup yang benar-benar berarti. Dan jawabannya, sementara saya masih berdiri di kereta yang goyang dengan satu tangan memegang pegangan dan satu tangan memegang ransel, adalah ya.
Ya, enam jam adalah ruang kosong. Ia tidak produktif, tidak kreatif, dan tidak menyenangkan. Ia adalah ongkos yang harus dibayar setiap hari untuk hak tinggal di rumah yang saya bayar dengan keringat dan utang. Dan ongkos itu, seperti bensin dan tiket kereta, tidak pernah kembali.
Tapi ada satu hal yang saya temukan di ruang kosong itu. Di saat-saat saya tidak melakukan apa-apa, di saat-saat saya hanya menatap pepohonan yang melintas di balik jendela kereta atau lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan, pikiran-pikiran aneh muncul. Pikiran tentang bagaimana anak saya akan mengingat saya. Apakah ia akan mengingat saya sebagai ayah yang selalu pergi sebelum ia bangun dan pulang setelah ia tidur. Apakah ia akan mengingat saya sebagai sesosok yang asing yang hanya ada di akhir pekan, ketika saya terlalu lelah untuk benar-benar bermain dengannya.
Dan di situlah letak ironinya. Saya melakukan semua ini—perjalanan panjang, perjuangan di kantor, penundaan mimpi-mimpi saya—untuk keluarga, tetapi keluarga itu perlahan menjadi sesuatu yang hanya saya temui di akhir pekan. Saya bekerja keras agar mereka tidak kekurangan, tetapi apa yang saya berikan tidak lebih dari angka-angka di rekening. Waktu, yang seharusnya menjadi hadiah termahal, adalah satu-satunya yang tidak pernah cukup untuk mereka.
Ada satu sore yang tidak akan saya lupakan. Hari itu hujan besar, kereta macet di mana-mana, dan saya pulang lebih lambat dari biasanya. Saya harus menjemput istri di arah barat, lalu kami berdua naik kereta dengan tubuh basah dan bau hujan. Sampai di stasiun tujuan, kami naik motor lagi melewati genangan air. Rumah sudah gelap. Anak saya tidur lebih awal. Dan saya, dengan tubuh basah dan pikiran penuh tekanan dari kantor, hanya bisa berdiri di pintu dan bertanya-tanya, sejak kapan saya menjadi tamu di rumah saya sendiri?
Di malam-malam seperti itu, sisi lain dari diri saya muncul. Bukan sisi yang berambisi membuat kanal YouTube atau aplikasi; tetapi sisi yang takut, sisi yang bertanya-tanya apakah semua pengorbanan ini berarti. Sisi yang melihat anaknya tumbuh dalam foto-foto di ponsel, yang mengetahui jadwal sekolahnya dari pesan grup, yang lebih akrab dengan jadwal kereta daripada dengan wajah istrinya sendiri.
Kemudian ada desisan kecil dari alam bawah sadar, sebuah refleksi yang mungkin menyakitkan tetapi jujur: menjadi anak pertama dari keluarga sederhana berarti memikul beban yang tidak terlihat. Anda dipilih untuk membawa tanggung jawab sejak kecil, untuk menjadi contoh, untuk menjadi orang yang semua orang bergantung. Dan tanggung jawab itu tidak pernah hilang; ia hanya berubah bentuk. Dari membantu adik-adik mengerjakan PR, menjadi membiayai sekolah mereka, menjadi menanggung pengeluaran rumah, dan akhirnya menjadi tiang penyangga bagi keluarga baru yang Anda bangun sendiri.
Di atas motor, di dalam kereta, pada pagi-pagi yang gelap atau sore-sore yang sunyi, sering kali saya bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya punya pilihan lain?" Dan jawabannya selalu membuat saya tersenyum masam. Karena saya memang tidak punya pilihan lain. Bukan karena saya tidak mampu, tapi karena saya sudah terlanjur melakukan semua yang harus dilakukan untuk membuat pilihan itu menjadi nyata. Saya membeli rumah di pinggiran karena itu satu-satunya yang saya mampu. Saya mengambil pekerjaan di Jakarta karena itu yang memberi penghasilan cukup. Dan sekarang saya menjalani konsekuensinya setiap hari: enam jam di jalan dan kereta, nyawa yang perlahan terkikis, dan mimpi-mimpi yang hanya muncul di saat-saat tidak tepat.
Suatu hari, di perjalanan pulang dengan motor menjemput istri, saya melihat seorang pengendara motor lain di sisi jalan. Ia berhenti di pinggir, melepas helm, dan mengeluarkan ponsel. Mungkin ia sedang menerima telepon penting, atau mungkin hanya ingin melihat pesan. Namun ada yang membuat saya terkesima: ia tersenyum. Di tengah asap knalpot dan kemacetan yang tak kunjung usai, di bawah langit sore yang mulai memerah, ia tersenyum. Saya tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum, tetapi saya iri.
Mengapa saya tidak bisa tersenyum seperti itu? Mengapa perjalanan panjang selalu terasa seperti hukuman, bukan kesempatan? Apakah karena saya selalu melihatnya sebagai ongkos yang harus dibayar, bukan sebagai waktu yang bisa dinikmati? Tentu, enam jam di jalan dan kereta bukanlah mimpi indah siapa pun, tetapi di dalamnya ada waktu. Waktu untuk merenung, waktu untuk mendengar, waktu untuk sekadar berada tanpa melakukan apa-apa. Mungkin saya terlalu sibuk mengeluh tentang betapa lamanya perjalanan ini sehingga saya lupa bahwa waktu yang saya lewati di dalam kereta dan di atas motor, sekalipun terbuang, adalah waktu saya. Saya bisa menghabiskannya dengan marah, atau saya bisa menghabiskannya dengan berdamai.
Saya bukan seorang filsuf. Jauh dari itu, saya hanya seorang pria biasa yang terjebak dalam rutinitas kereta-motor setiap hari. Tetapi di perjalanan itu, saya mulai melihat pola. Pola bahwa hidup kita adalah kumpulan dari perjalanan-perjalanan ini, bukan sekadar tujuan-tujuan di akhir. Dan mungkin, menjadi anak pertama adalah tentang belajar mengisi kekosongan dengan makna, meskipun makna itu sederhana: seperti mendengarkan lagu favorit sampai hafal, seperti melihat matahari terbit dari jendela kereta, seperti merasakan hangatnya tubuh istri ketika kami berdua berdesakan di gerbong penuh, seperti tahu bahwa di ujung perjalanan, ada dua pasang tangan kecil yang akan memeluk Anda meskipun Anda pulang terlambat.
Kadang-kadang, pada saat-saat yang jarang, ketika kereta benar-benar kosong dan langit cerah, ketika motor tidak mogok dan jalanan tidak macet, saya mengemudi dengan perasaan aneh. Bukan senang, bukan sedih—tetapi seperti semacam kedamaian yang muncul dari penerimaan. Saya menerima bahwa ini adalah hidup saya. Saya menerima bahwa enam jam akan selalu menjadi bagian dari rutinitas saya. Saya menerima bahwa mimpi-mimpi saya mungkin harus menunggu lebih lama, atau mungkin tidak akan pernah terwujud sama sekali. Dan dalam penerimaan itu, ada pembebasan yang aneh. Sebuah perasaan bahwa saya tidak melawan hidup lagi; saya hanya menjalaninya.
Dinding beton di jalan raya dan rel kereta menjadi metafora. Dinding itu tidak tampak. Tidak ada beton sungguhan yang saya lewati setiap hari, kecuali tiang-tiang listrik kereta dan pembatas jalan. Tetapi dinding itu ada—dinding rasa lelah, dinding rutinitas, dinding tanggung jawab yang tidak pernah renggang. Dinding itu adalah batas antara saya dan semua yang saya impikan. Dan saya belajar bahwa tidak semua dinding harus dirobohkan. Beberapa dinding bisa menjadi tempat bersandar, bisa menjadi pelindung dari angin, bisa menjadi pengingat bahwa di dalam keterbatasan pun, kita masih bisa berdiri tegak.
Kadang saya membayangkan, andai saja perjalanan ini lebih pendek. Andai saja saya tinggal di dekat kantor, atau bekerja dari rumah, atau memiliki pekerjaan yang tidak memaksa saya mengorbankan waktu dan tenaga setiap hari. Saya mungkin akan menjadi orang yang berbeda. Saya mungkin akan memiliki lebih banyak energi untuk mengejar mimpi-mimpi saya. Tetapi dunia tidak berjalan seperti itu, bukan? Kita tidak bisa memilih geografi hidup kita, setidaknya tidak selalu. Kita hanya bisa memilih bagaimana meresponsnya.
Dan di situlah saya belajar, bahwa kadang menjadi anak pertama bukan soal mengejar semua bintang, tapi soal tahu mana yang harus dilepaskan agar yang lain tetap bisa bersinar. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak fragmen yang saya kumpulkan di pinggir jalan dan di balik jendela kereta.
The Concrete Wall on the Highway (English Version)
They say time is money, but for me, time is the gasoline I burn on the road and the train tickets that keep getting more expensive. Every morning, before the rooster has even thought about crowing, I turn the ignition of my old motorcycle, leaving behind a house still dark with dreams that haven't had the chance to fall asleep.
I've never counted how many liters of fuel I consume each month. I've never tallied how many hours of my life evaporate between train stations and Jakarta's unforgiving streets. But if there's one thing I know with certainty, it's a feeling—a numb ache in my backside after half an hour on the motorcycle heading to the station, the suffocating squeeze of a train packed like canned sardines, and that strange sensation when I see my own home shrink in the rearview mirror, growing smaller, farther away, as if each day I'm not leaving for work but leaving something behind.
My house is on the outskirts. Not the romantic kind of outskirts with rice fields and mountains, but the practical kind: a modest housing complex with narrow alleys, neighbors who know each other's departure schedules by heart, and the only thing worth boasting about is the fifteen-minute motorcycle ride to the train station. And from that station, the long journey begins.
My daily commute is a complicated ritual: motorcycle to the station, train to Jakarta, and then another motorcycle ride to the office. On the way home, motorcycle again heading west to pick up my wife, then to the train station, get off the train, and one last motorcycle ride to get home. Total? About 6 hours. Three hundred and sixty minutes. I've calculated it countless times—when the train is delayed or when it's moving slowly—and the number is always over five and a half. Sometimes more, when it rains or when there's a demonstration on Sudirman. But six hours is the average: enough to listen to an entire album until you know every lyric, enough to finish two episodes of a podcast about a topic whose title I've already forgotten, and enough to let your thoughts drift to places they probably shouldn't visit.
It's during those commutes that dreams come. They always come at the wrong moment: when my hands are gripping the motorcycle handlebars, when my eyes need to focus on the road and the tracks, when my brain should only be concerned with gear shifts and train schedules. But they come anyway, uninvited. Sometimes as a sudden app idea that pops into my head, sometimes as a desire to start a YouTube channel discussing trivial things no one ever cares about, sometimes just as a simple question: "What am I actually doing here?"
In moments like those, I imagine myself as someone else. Someone who has time to sit in front of a laptop and write code. Someone who has the energy to edit videos until three in the morning. Someone who never feels tired from a long journey before the real work even begins. But dreams, as I've learned from countless mornings at the station and afternoons on the train, never grow on asphalt or steel rails. They grow on soil, in quiet places, in spaces with enough room for their roots to spread. Inside the train, there is only the smell of dozens of people's sweat, the same announcements repeated over and over, and that nagging worry that a call from the office might come through, asking where I am now.
I remember one morning, the station was packed as usual, and the loudspeakers were playing an old song. The lyrics were about waiting—about someone who promised to come but never showed up. At that moment, in the middle of the crowd pushing through the station gates, I suddenly felt the song was about me. I was waiting for myself. Waiting for a braver version of me, a more ambitious version, one unafraid to take risks. But that version never showed. It was like a reflection in the train window: always there, but the more I stared at it, the more it blurred.
And I began to wonder—is this journey merely what it seems to be: empty space between two points? Are these six hours just an interlude to be endured, not a meaningful part of life? And the answer, as I stood on the swaying train with one hand gripping the handle and the other holding my backpack, was yes.
Yes, six hours is empty space. It's not productive, not creative, and not pleasant. It's the toll I pay every day for the right to live in a house I bought with sweat and debt. And that toll, like gasoline and train tickets, never comes back.
But there is one thing I've found in that empty space. In those moments when I'm not doing anything, when I'm just staring at the trees passing by outside the train window or the city lights blinking in the distance, strange thoughts emerge. Thoughts about how my child will remember me. Whether he'll remember me as a father who always left before he woke and returned after he slept. Whether he'll remember me as a stranger who only existed on weekends, when I was too exhausted to truly play with him.
And here lies the irony. I do all of this—the long commute, the struggle at the office, the postponement of my own dreams—for my family. But my family slowly becomes something I only meet on weekends. I work hard so they won't lack anything, but what I give them is nothing more than numbers in a bank account. Time, which should be the most precious gift, is the one thing I never have enough of for them.
There's one evening I'll never forget. It was raining heavily that day, trains were delayed everywhere, and I came home much later than usual. I had to pick up my wife from the west side, and then we took the train together with wet bodies smelling of rain. When we reached our station, we got back on the motorcycle through puddles of water. The house was already dark. My child had gone to bed early. And I, with a wet body and a mind full of work pressures, could only stand at the doorway and wonder—since when did I become a guest in my own home?
On nights like that, another side of me surfaces. Not the ambitious side that dreams of YouTube channels or apps, but the scared side—the side that wonders if all this sacrifice means anything. The side that watches its child grow up through photos on a phone, that learns about school schedules through group chats, that knows train schedules better than the face of its own wife.
Then there's a small whisper from the subconscious, a reflection that might hurt but is honest: being the firstborn child of a simple family means carrying an invisible weight. You're chosen to bear responsibility from a young age, to be an example, to be the person everyone depends on. And that responsibility never disappears; it just changes form. From helping younger siblings with homework, to funding their education, to covering household expenses, and finally to becoming the pillar of a new family you've built yourself.
On the motorcycle, inside the train, on dark mornings or quiet afternoons, I often ask myself: "Did I have another choice?" And the answer always makes me smile bitterly. Because I truly didn't have another choice. Not because I lacked ability, but because I had already done everything necessary to make that choice a reality. I bought the house on the outskirts because it was all I could afford. I took the job in Jakarta because it provided enough income. And now I live with the consequences every day: six hours on the road and train, a life slowly chipped away, and dreams that only surface at the most inconvenient times.
One day, on my way home riding the motorcycle to pick up my wife, I saw another motorcyclist pulled over on the side of the road. He stopped, took off his helmet, and pulled out his phone. Maybe he was receiving an important call, or maybe just checking a message. But something about him caught my attention: he was smiling. Amidst the exhaust fumes and endless traffic, under a sky beginning to redden with dusk, he was smiling. I didn't know what made him smile, but I felt envious.
Why couldn't I smile like that? Why did the long journey always feel like a punishment rather than an opportunity? Was it because I always saw it as a cost to be paid, rather than time to be enjoyed? Sure, six hours on the road and train is nobody's idea of a good time, but within it is time. Time to reflect, time to listen, time to simply be without doing anything. Perhaps I was so busy complaining about how long the journey was that I forgot the time I spent inside the train and on the motorcycle, even if wasted, was still my time. I could spend it angry, or I could spend it at peace.
I'm not a philosopher. Far from it—I'm just an ordinary man trapped in a daily train-motorcycle routine. But during those commutes, I began to see a pattern. A pattern that our lives are composed of these journeys, not just the destinations at the end. And perhaps, being a firstborn child is about learning to fill emptiness with meaning, even if that meaning is simple: like listening to a favorite song until you know it by heart, like watching the sunrise from the train window, like feeling the warmth of my wife's body when we're squeezed together in a packed carriage, like knowing that at the end of the journey, there are two small hands waiting to hug you even when you come home late.
Sometimes, on rare occasions when the train is truly empty and the sky is clear, when the motorcycle doesn't break down and the roads aren't congested, I ride with a strange feeling. Not happiness, not sadness—but something like a quiet peace that comes from acceptance. I accept that this is my life. I accept that six hours will always be part of my routine. I accept that my dreams might have to wait longer, or may never come true at all. And in that acceptance, there's a strange release. A feeling that I'm no longer fighting life; I'm just living it.
The concrete wall on the highway and train tracks becomes a metaphor. The wall isn't visible. There's no actual concrete I pass every day, except for the electric train poles and road barriers. But the wall exists—the wall of exhaustion, the wall of routine, the wall of responsibility that never loosens. It's the boundary between me and everything I've dreamed of. And I've learned that not all walls need to be torn down. Some walls can be leaned on, can protect from the wind, can serve as reminders that even within limitations, we can still stand tall.
Sometimes I imagine, what if this journey were shorter? What if I lived closer to the office, or worked from home, or had a job that didn't force me to sacrifice time and energy every day? I might have become a different person. I might have had more energy to chase my dreams. But the world doesn't work that way, does it? We can't always choose the geography of our lives. We can only choose how to respond to it.
And that's where I learned that being a firstborn child isn't about chasing all the stars, but about knowing which ones to let go so others can keep shining. This is just one of the many fragments I've gathered on the roadside and behind the train window.

Posting Komentar untuk "Dinding Beton di Jalan Raya"