Jam Kerja, Mimpi Pribadi, dan Garis yang Tak Bisa Dilewati
Jam Kerja, Mimpi Pribadi, dan Garis yang Tak Bisa Dilewati
Hidup sebagai anak pertama mengajarkan satu hal sejak dini: kau harus bisa membawa beban tanpa mengeluh. Tapi yang jarang diajarkan adalah bagaimana membawa beban itu sementara di dalam kepalamu ada ribuan mimpi yang berteriak minta diwujudkan. Di sinilah aku belajar bahwa ada garis yang—meski tak terlihat—tak pernah bisa kulewati, karena melanggarnya berarti mengkhianati diriku sendiri.
Jam kantor dimulai pukul delapan. Aku selalu datang lima belas menit lebih awal. Bukan karena rajin, tapi karena aku butuh waktu untuk duduk diam sebentar, menatap layar monitor yang masih gelap, dan mengumpulkan diriku sebelum hari benar-benar dimulai. Ada ritual kecil yang kulakukan: mengambil napas panjang, membuka catatan di ponsel, menulis tiga kata tentang apa yang ingin tercapai hari ini. Lalu aku memasukkan ponsel ke laci, mengunci layarnya, dan menjadi orang lain selama delapan jam ke depan.
Orang itu bukanlah orang yang sama dengan yang duduk di kamar kos semalam suntuk, menatap kode di layar laptop pribadi sampai mata perih. Orang di kantor adalah versi yang lebih rapi, lebih terukur, lebih bisa diandalkan. Dia tahu cara menjawab telepon dengan nada ramah, cara mengatur jadwal rapat, cara tersenyum saat bos memberi tugas di menit-menit terakhir. Orang itu profesional. Orang itu baik. Tapi kadang, di sela-sela mengetik laporan, aku bertanya: apakah orang itu masih aku?
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, seperti bayangan yang nongol di pojok mata. Aku lagi asyik mengerjakan spreadsheet, dan begitu setengah sadar tanganku bergerak membuka jendela browser baru. Jari-jemariku hampir mengetik alamat repository tempat proyek pribadiku tersimpan—aplikasi kecil yang kubangun dari nol, yang kupoles setiap Sabtu malam, yang kuharap suatu hari bisa menjawab doa-doa ibuku tentang "hidup yang lebih baik". Tapi tepat sebelum jari menekan Enter, aku berhenti.
Aku melihat bayangan itu. Bayangan seorang anak laki-laki yang dulu disuruh ibunya mengantar surat ke kantor pos, dan dia berjalan sejauh tiga kilometer di bawah terik matahari karena tidak punya ongkos angkot. Anak itu tidak pernah mencuri, bahkan permen seharga seratus rupiah dari warung. Anak itu tumbuh dengan keyakinan bahwa kejujuran adalah satu-satunya harta yang tidak bisa diambil orang. Dan sekarang, anak itu duduk di kursi kantor dengan jabatan yang lumayan, gaji yang cukup, dan pertanyaan: apakah mencuri waktu sama dengan mencuri uang?
Aku menutup browser. Meneguk kopi yang sudah dingin. Dan melanjutkan spreadsheet.
Tapi pertanyaan itu tetap ada. Nempel di kepala seperti lagu yang tidak selesai.
Kamu lihat, godaan itu nyata. Sangat nyata. Di era ini, semua orang sepertinya punya side hustle. Teman-teman di grup WhatsApp bercerita tentang jualan online sambil meeting Zoom, tentang ngerjain proyek freelance di jam makan siang, tentang merekam konten di toilet kantor. Mereka tertawa, mereka kaya, mereka bebas. Dan aku? Aku duduk di sini, membiarkan ide-ide besar menguap di siang bolong, karena sesuatu yang mungkin tidak pernah dilihat orang lain: garis tak terlihat yang kulukis sendiri.
Garis itu bukan tentang aturan perusahaan. Jujur saja, mungkin tidak ada yang akan tahu kalau aku mengerjakan proyek pribadi di jam kerja. CCTV? Aku tau posisi kameranya. Akses internet? Tidak ada yang memonitor. Bosku orangnya sibuk, tidak pernah mengecek detail. Secara teknis, aku bisa melakukannya. Secara logis, aku bisa lolos. Tapi secara moral? Di situlah garis itu berada. Dan aku tidak sanggup melangkahinya, karena aku tau persis bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan.
Waktu kecil, aku pernah dituduh mencuri uang di kelas. Aku tidak melakukannya, tapi guruku tidak percaya. Aku ingat betul bagaimana rasanya: perut mulas, pipi panas, dan mata berkaca-kaca tapi berusaha keras menahan tangis. Aku ingat bagaimana Ibu datang ke sekolah, bagaimana beliau membelaku dengan tenang tapi tegas, bagaimana beliau bilang pada guru itu, "Anak saya tidak pernah bohong." Dan aku ingat bagaimana beliau menatapku di perjalanan pulang dengan tatapan yang berkata: aku percaya padamu, jangan buat aku salah.
Sejak hari itu, ada semacam kode moral yang tertanam di tulangku. Bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bahwa begitu kau menghancurkannya, ia tidak akan pernah kembali utuh seperti sedia kala. Bahwa menjadi orang yang bisa dipercaya itu berat—tapi kehilangan kepercayaan jauh lebih berat.
Itulah kenapa aku tidak bisa melakukannya.
Bukan karena aku takut ketahuan. Bukan karena aturan tertulis di kontrak kerja. Tapi karena, di dalam diriku, ada anak kecil yang masih ingat bagaimana rasanya dipercaya, dan dia tidak rela mengorbankan itu hanya untuk sebuah aplikasi yang mungkin—atau mungkin tidak—akan sukses.
Aneh, bukan? Semakin tua, semakin berat beban pilihan. Dulu, waktu SMA, pilihan terberat mungkin antara nongkrong atau belajar. Sekarang, pilihan terberat adalah antara bertahan pada prinsip atau menuruti hasrat untuk keluar dari kesulitan. Keduanya punya argumen. Keduanya masuk akal. Tapi pada akhirnya, kau harus memilih satu, dan pilihan itu akan mendefinisikan siapa kau di masa depan.
Ada satu waktu, malam Minggu, aku membicarakan ini dengan sahabatku, Arif. Kami duduk di warung kopi langganan, tempat yang sama sejak kuliah, dengan kursi plastik yang sama dan meja yang sedikit goyang. Arif bilang, "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Fajar. Orang lain juga melakukan hal yang sama, kok. Namanya juga survival."
Aku menggeleng. "Mereka bisa. Aku enggak."
"Kenapa?"
"Karena aku anak pertama."
Arif tertawa. "Ah, alasan klasik."
Tapi aku serius. Menjadi anak pertama itu bukan sekadar urutan lahir. Itu adalah identitas yang membentuk cara kau melihat dunia. Anak pertama adalah orang yang, tanpa diminta, mengambil tanggung jawab lebih. Anak pertama adalah orang yang belajar mandiri sebelum waktunya, yang melihat ibunya menangis diam-diam di dapur dan memutuskan untuk menjadi kuat. Anak pertama adalah orang yang, bahkan ketika tidak ada yang melihat, tetap berusaha menjadi contoh.
Dan bagi anak pertama, integritas bukanlah pilihan. Itu adalah harga mati.
Aku ingat suatu kejadian beberapa tahun lalu. Waktu itu aku masih kerja di tempat sebelumnya, dengan gaji yang jauh lebih kecil. Ada rekan kerja yang mengajakku "bekerja sama" dalam proyek sampingan—menggunakan data perusahaan untuk keperluan pribadi. Katanya, "Semua orang juga begitu. Bos kita korup, kok. Kenapa harus sok suci?" Aku menolak. Rekan itu kesal. "Dasar anak baik," katanya sinis. Tapi aku tidak menyesal.
Beberapa bulan kemudian, rekan itu ketahuan. Dipecat. Disidang. Dan reputasinya hancur. Aku tidak menikmati itu, tentu saja. Tapi aku belajar sesuatu: kadang, pilihan sulit hari ini adalah perlindungan untuk masa depan yang belum kau lihat.
Aplikasi yang kubangun di rumah? Itu hampir selesai. Aku menulis kodenya malam-malam, setelah pulang dari kantor dan setelah salat Isya. Kadang mata berat banget, tapi aku paksa. Sabtu pagi, sebelum orang-orang bangun, aku sudah membuka laptop. Minggu malam, saat orang lain menonton film, aku debugging. Progresnya pelan—sangat pelan. Tapi itu adalah kemajuan yang jujur. Kemajuan yang tidak merampok waktu orang lain, tidak mengkhianati kepercayaan kantorku, dan tidak membuatku terjaga di malam hari karena rasa bersalah.
Aku kadang iri pada mereka yang bisa dengan santai mengerjakan dua hal sekaligus. Aku kadang berpikir, "Apa aku terlalu lemah? Apa aku terlalu kaku?" Tapi kemudian aku ingat pada ibuku. Ketika beliau bekerja di pabrik, beliau tidak pernah mengambil bahan baku meskipun hanya secuil. Padahal semua orang melakukannya. Padahal tidak ada yang akan tahu. Tapi beliau berkata, "Jika aku mengambil milik orang lain, maka aku bukan siapa-siapa."
Dan aku, anaknya, mewarisi kata-kata itu. Di dalam setiap pilihan yang aku buat, aku mendengar suara itu, pelan tapi jelas: "Jangan jadi siapa-siapa, Nak."
Ada banyak malam di mana aku menatap layar laptop pribadiku, mengutak-atik kode yang belum selesai, dan bertanya: apa yang aku perjuangkan ini? Aplikasi kecil yang mungkin tidak laku? Konten YouTube yang mungkin hanya ditonton lima orang? Apa gunanya? Tapi kemudian aku sadar: ini bukan tentang hasil akhir. Ini tentang proses menjadi orang yang utuh. Tentang membangun hidup dari fondasi yang kau percaya, bukan dari retakan yang kau sembunyikan.
Kau tahu, di tempat kerjaku, ada seorang senior yang sangat aku kagumi. Namanya Pak Budi. Beliau sudah bekerja di sana hampir dua puluh tahun. Beliau tidak pernah punya jabatan tinggi, tidak pernah kaya raya, tapi semua orang hormat padanya. Suatu hari aku bertanya, "Pak, kenapa Bapak tidak coba usaha sampingan saja? Banyak kok yang begitu."
Beliau tersenyum, lalu berkata, "Fajar, aku ini pegawai negeri. Aku disumpah untuk bekerja untuk rakyat. Kalau aku sibuk dengan urusan lain, mana mungkin aku melayani mereka dengan baik?"
Aku terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi berat. Sangat berat. Di era di mana semuanya serba pragmatis, di mana "ngapain susah-susah kalau bisa curang" menjadi semacam kearifan populer, Pak Budi tetap pada pilihannya. Bukan karena takut, tapi karena dia percaya pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Aku mungkin tidak seideal Pak Budi. Aku punya mimpi-mimpi yang besar, mungkin terlalu besar untuk ukuran kantorku. Tapi aku belajar dari beliau bahwa integritas bukanlah tentang menjadi sempurna, melainkan tentang konsistensi. Tentang memilih hal yang benar berulang-ulang, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Bahkan ketika itu terasa bodoh. Bahkan ketika semua orang bilang kau terlalu naif.
Aku sering membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti aplikasi itu berhasil. Bagaimana jika jutaan orang memakainya, dan aku jadi terkenal, dan aku bisa membelikan rumah untuk Ibu. Aku membayangkan adegan itu—bagaimana aku akan menceritakan perjalananku pada anak-anak nanti. Dan dalam bayangan itu, aku selalu ingin bisa berkata: "Aku mencapai ini dengan cara yang jujur. Aku tidak mencuri, tidak berbohong, tidak mengkhianati kepercayaan siapa pun. Aku hanya bekerja keras, dan terus bekerja keras, di waktu yang memang milikku."
Mungkin itu naif. Mungkin itu terlalu idealis. Tapi aku memilih percaya bahwa ada jalan yang tidak harus dilalui dengan mengorbankan harga diri. Dan jika jalan itu lebih lambat, lebih sulit, dan lebih sepi? Mungkin itulah harga yang harus kubayar untuk sebuah tidur yang nyenyak di malam hari, untuk sebuah cermin yang tidak membuatku menunduk, untuk sebuah hidup yang kuingat nanti tanpa penyesalan.
Jam kerja berakhir pukul lima sore. Aku selalu menunggu sampai jarum panjang tepat di angka dua belas sebelum menutup laptop. Tidak semenit pun lebih cepat. Bukan karena aku suka kerja lembur, tapi karena aku ingin memastikan bahwa batas antara waktu kantor dan waktu pribadiku jelas, tegas, dan tidak kacau. Ini kecil, mungkin sepele, tapi bagiku ini adalah bentuk latihan: melatih diriku sendiri untuk menghormati apa yang menjadi hak orang lain, dan juga menghormati apa yang menjadi hakku.
Di perjalanan pulang, naik angkot yang selalu sama, aku membuka catatan di ponsel dan melihat tiga kata yang kutulis pagi tadi. Hari ini aku menulis: "Tahan, tabah, utuh." Aku tidak tahu apakah aku berhasil sepenuhnya. Tapi aku mencoba. Dan untuk seorang anak pertama yang dibesarkan oleh seorang ibu yang mengajarkan kejujuran melalui teladannya, kata-kata itu cukup.
Aku turun di halte dekat kos. Udara mulai dingin. Aku melangkah ke kamar, menyalakan laptop pribadi, dan melanjutkan kode yang kupelajari malam-malam sebelumnya.
Ini adalah hariku. Ini adalah hidupku. Pelan, lambat, kadang membuat frustrasi, tapi jujur. Dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun.
— Hajriah Fajar
Office Hours, Private Dreams, and the Line That Cannot Be Crossed
Being the firstborn teaches you one thing early: you must carry your burdens without complaint. But what they rarely teach you is how to carry those burdens while inside your head, a thousand dreams are screaming to be realized. This is where I learned that there is a line—invisible though it may be—that I could never cross, because crossing it would mean betraying myself.
Work starts at eight. I always arrive fifteen minutes early. Not because I'm diligent, but because I need a moment to sit still, stare at the blank monitor, and gather myself before the day truly begins. There's a small ritual: I take a deep breath, open my notes app, and write three words about what I want to achieve today. Then I put my phone in the drawer, lock the screen, and become someone else for the next eight hours.
That someone is not the same person who sits in a rented room until late at night, staring at code on a personal laptop until the eyes sting. The office version is neater, more measured, more reliable. He knows how to answer phone calls with a friendly tone, how to manage meeting schedules, how to smile when the boss drops a last-minute task. That person is professional. That person is good. But sometimes, in between typing reports, I wonder: is that person still me?
The question comes suddenly, like a shadow at the corner of your eye. I'm in the middle of a spreadsheet when, half-consciously, my hand moves to open a new browser window. My fingers are about to type the address of the repository where my personal project lives—a small application I built from scratch, polished every Saturday night, the one I hope might one day answer my mother's prayers for "a better life." But just before my finger hits Enter, I stop.
I see the shadow. The shadow of a boy who was once sent by his mother to deliver a letter to the post office, walking three kilometers under the scorching sun because he had no money for a ride. That boy never stole—not even a hundred-rupiah candy from the corner store. That boy grew up believing that honesty was the only treasure no one could take away. And now, that boy sits in an office chair with a decent position, a decent salary, and a question: is stealing time the same as stealing money?
I close the browser. Take a sip of cold coffee. And continue the spreadsheet.
But the question remains. Stuck in my head like an unfinished song.
You see, the temptation is real. Very real. In this era, everyone seems to have a side hustle. Friends in WhatsApp groups talk about selling stuff online during Zoom meetings, doing freelance work during lunch breaks, recording content in the office toilet. They laugh, they get rich, they're free. And me? I sit here, letting big ideas evaporate in broad daylight, because of something that perhaps no one else sees: the invisible line I drew myself.
That line isn't about company rules. To be honest, no one would probably know if I worked on personal projects during office hours. CCTV? I know where the cameras are. Internet access? No one monitors it. My boss is busy, never checks the details. Technically, I could do it. Logically, I could get away with it. But morally? That's where the line sits. And I cannot step over it, because I know exactly what it feels like to lose trust.
When I was a kid, I was once accused of stealing money in class. I didn't do it, but my teacher didn't believe me. I remember exactly how it felt: stomach churning, cheeks burning, eyes welling up but desperately holding back tears. I remember my mother coming to school, how she defended me calmly but firmly, how she told the teacher, "My son never lies." And I remember how she looked at me on the way home, a look that said: I trust you, don't make me wrong.
From that day on, a moral code was embedded in my bones. That trust is something money cannot buy. That once you shatter it, it will never return whole again. That being someone who can be trusted is heavy—but losing that trust is far heavier.
That's why I can't do it.
Not because I'm afraid of getting caught. Not because it's written in the employment contract. But because, inside me, there's a child who still remembers what it's like to be trusted, and he is not willing to sacrifice that for an application that might—or might not—succeed.
Strange, isn't it? The older you get, the heavier the choices become. In high school, the toughest choice might have been between hanging out or studying. Now, the hardest choice is between holding onto your principles or giving in to the urge to escape hardship. Both have arguments. Both make sense. But in the end, you have to choose one, and that choice will define who you become.
One Saturday night, I talked about this with my friend Arif. We sat at our usual coffee stall, the same one since college, with the same plastic chairs and the same wobbly table. Arif said, "You're too hard on yourself, Fajar. Other people do the same thing, you know. It's called survival."
I shook my head. "They can. I can't."
"Why?"
"Because I'm the firstborn."
Arif laughed. "Ah, the classic excuse."
But I was serious. Being the firstborn isn't just about birth order. It's an identity that shapes how you see the world. The firstborn is someone who, without being asked, takes on extra responsibility. The firstborn is someone who learns to be independent before their time, who sees their mother crying silently in the kitchen and decides to be strong. The firstborn is someone who, even when no one is watching, still tries to be an example.
And for the firstborn, integrity isn't a choice. It's a non-negotiable price.
I remember an incident a few years ago. I was still working at my previous job, with a much smaller salary. A colleague invited me to "collaborate" on a side project—using company data for personal purposes. He said, "Everyone does it. Our boss is corrupt anyway. Why act so holy?" I refused. He got annoyed. "Goody two-shoes," he sneered. But I didn't regret it.
A few months later, he got caught. Fired. Prosecuted. His reputation destroyed. I didn't enjoy it, of course. But I learned something: sometimes, today's difficult choice is protection for a future you haven't yet seen.
The application I'm building at home? It's almost done. I write code at night, after coming home from work and after Isha prayer. Sometimes my eyes are so heavy, but I push through. Saturday mornings, before anyone wakes up, I've already opened my laptop. Sunday nights, while others watch movies, I'm debugging. The progress is slow—very slow. But it's honest progress. Progress that doesn't steal from other people's time, doesn't betray my office's trust, and doesn't keep me awake at night with guilt.
I sometimes envy those who can casually juggle two things at once. I sometimes think, "Am I too weak? Am I too rigid?" But then I remember my mother. When she worked at the factory, she never took even a scrap of raw material. Even though everyone else did. Even though no one would know. But she said, "If I take what belongs to others, then I am no one."
And I, her son, inherited those words. In every choice I make, I hear that voice, soft but clear: "Don't become no one, son."
There are many nights when I stare at my personal laptop screen, tinkering with unfinished code, and wonder: what am I even fighting for? A small app that might not sell? YouTube content that might only get five views? What's the point? But then I realize: it's not about the final outcome. It's about the process of becoming a whole person. About building a life on foundations you believe in, not on cracks you hide.
You know, at my workplace, there's a senior I truly admire. His name is Pak Budi. He's been there for almost twenty years. He never held a high position, never became rich, but everyone respects him. One day I asked, "Sir, why don't you try a side business? Many people do."
He smiled, and said, "Fajar, I'm a civil servant. I took an oath to serve the people. If I'm busy with other matters, how can I serve them well?"
I fell silent. The words were simple, but heavy. Very heavy. In an era where everything is pragmatic, where "why bother if you can cheat" has become a kind of popular wisdom, Pak Budi stuck to his choice. Not out of fear, but because he believed in something bigger than himself.
I may not be as idealistic as Pak Budi. I have big dreams, perhaps too big for my office desk. But I learn from him that integrity isn't about being perfect—it's about consistency. About choosing the right thing repeatedly, even when no one is watching. Even when it feels foolish. Even when everyone says you're too naive.
I often imagine what if one day, that app succeeds. What if millions of people use it, and I become known, and I can buy a house for my mother. I imagine that scene—how I would tell my story to my children someday. And in that vision, I always want to be able to say: "I achieved this honestly. I didn't steal, didn't lie, didn't betray anyone's trust. I just worked hard, and kept working hard, in the time that was truly mine."
Maybe that's naive. Maybe it's too idealistic. But I choose to believe that there is a path that doesn't have to be walked by sacrificing your self-respect. And if that path is slower, harder, and lonelier? Perhaps that's the price I have to pay for a good night's sleep, for a mirror that doesn't make me look down, for a life I will remember without regret.
Work ends at five in the afternoon. I always wait until the long hand hits exactly twelve before closing my laptop. Not a minute earlier. Not because I like overtime, but because I want to make sure the boundary between office time and personal time is clear, firm, and unblurred. This is small, maybe trivial, but for me, it's a form of practice: training myself to respect what belongs to others, and also respect what belongs to me.
On the way home, on the same angkot I always take, I open my notes and look at the three words I wrote this morning. Today I wrote: "Endure, steady, whole." I don't know if I fully succeeded. But I tried. And for a firstborn raised by a mother who taught honesty through her example, those words are enough.
I get off at the stop near my boarding house. The air is starting to get cool. I walk to my room, turn on my personal laptop, and continue the code I was studying the night before.
This is my day. This is my life. Slow, sometimes frustrating, but honest. And I wouldn't trade it for anything.
— Hajriah Fajar

Posting Komentar untuk "Jam Kerja, Mimpi Pribadi, dan Garis yang Tak Bisa Dilewati"