Khayalan XSR yang Tercemar
Khayalan XSR yang Tercemar
— Fragmen Hidup, Bab Tengah —
Saya tidak ingat persis kapan pertama kali melihat motor itu. Mungkin di sebuah iklan di Instagram, atau mungkin lewat rekomendasi YouTube yang tiba-tiba muncul di beranda. Yang saya ingat, dan ini aneh, adalah rasanya. Bukan rasa kagum biasa, tapi semacam klik di bagian dada yang kemudian menyebar ke ujung jari.
XSR155. Hijau gelap. Tangki bundar dengan garis-garis retro yang mengingatkan saya pada motor-motor jadul yang dulu saya lihat di majalah tua milik bapak. Motor itu seperti gabungan antara masa lalu dan masa depan—gaya klasik, tapi teknologinya kekinian. Dan di kepala saya, dalam hitungan menit, motor itu bukan lagi sekedar motor. Itu sudah menjadi bagian dari rutinitas: pagi-pagi saya melaju di jalanan yang masih sepi, angin pagi menyapa wajah, lalu sore harinya saya berhenti di depan kantor istri, dia tersenyum, naik ke jok belakang, dan kita pulang bersama.
Khayalan yang indah, kan?
Tapi hidup selalu punya cara untuk merusak gambaran sempurna di kepala. Dan kali ini, cara itu datang dalam bentuk—seperti kata orang tua dulu—kejatuhan kotoran burung di waktu yang salah.
Saya menemukannya secara tidak sengaja. Sebuah status di media sosial. Dari seseorang. Seorang perempuan yang—bagaimana saya bilang dengan sopan—kehadirannya saja sudah cukup membuat alis saya berkerut tanpa izin. Dia mengunggah foto XSR155 yang sama. Hijau gelap. Tangki bundar. Garis-garis retro. Lengkap dengan kalimat yang membuat perut saya mulas: "Cita-cita tahun ini, semoga keburu."
Saya berhenti scrolling. Saya lihat lagi fotonya. Saya lihat lagi. Saya tutup HP. Saya buka lagi. Seperti orang yang nggak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat, tapi tetep aja nggak bisa berhenti memastikan.
Dan di situlah masalahnya.
Bukan karena saya nggak boleh membeli motor yang orang lain suka. Tentu saja saya boleh. Tapi ada hal lain yang mengganjal di hati, dan saya tidak punya nama untuk perasaan itu. Seperti ketika kamu memesan makanan favorit, lalu tiba-tiba seseorang yang kamu nggak suka memesan menu yang sama, dan tiba-tiba makanan itu terasa hambar. Irasional, bukan? Saya tahu. Saya juga tahu bahwa perasaan ini—kalau saya tulis dan saya baca ulang—terdengar kekanak-kanakan. Tapi perasaan nggak pernah peduli dengan logika. Perasaan itu seperti anak kecil yang ngambek di supermarket, merajuk minta dibelikan mainan, dan nggak peduli kalau ibunya bilang "uangnya buat beli beras".
Dan kemudian, seperti kalau Tuhan lagi iseng melihat manusia kebingungan, istri saya duduk di samping saya suatu malam. Kami baru saja selesai menyusun jadwal les anak-anak. Dompet sudah tipis, perhitungan bulanan ada di atas meja, kalkulator masih menyala dengan angka-angka yang nggak pernah akur dengan keinginan.
"Aku lihat kamu sering lihat motor itu," katanya. Pelan. Nggak menuduh, tapi nggak juga melepas.
Saya mengangguk. "Iya. Lagi mikir-mikir."
Dia diam sebentar. Lalu dia bilang kalimat yang saya tahu akan dia ucapkan, tapi tetap saja membuat dada saya terasa penuh—bukan sesak, tapi penuh dengan sesuatu yang susah dijelaskan.
"Kita fokus ke anak-anak dulu, ya?"
Dan di situ saya sadar: ada dua dunia yang bentrok di kepala saya. Satu dunia di mana saya masih laki-laki dengan ego yang butuh dirayakan, butuh punya sesuatu yang saya banggakan, butuh merasakan sensasi angin pagi di jalanan kosong sambil menaiki motor idaman. Dan dunia lain, di mana saya adalah seorang ayah, seorang suami, yang harus memilih antara keinginan pribadi dan tanggung jawab besar yang nggak bisa ditawar-tawar.
Saya juga sadar bahwa ini bukan tentang motor. Ini tentang saya yang mungkin sedang berteriak dalam diam: "Aku masih ada, lho. Aku masih punya keinginan, aku masih punya mimpi kecil." Tapi teriakan itu tidak keluar. Hanya menggema di ruang antara dinding dada dan tulang rusuk.
Motor itu, entah kenapa, menjadi lambang dari semua itu. Dan ketika saya tahu bahwa perempuan yang saya benci itu—saya sadar, kata "benci" mungkin terlalu berat, tapi kata "tidak suka" terasa terlalu ringan—juga menginginkan motor yang sama, ada sesuatu yang rusak. Bukan di motor itu, bukan di perempuan itu, tapi di dalam kepala saya. Ada gambar yang tadinya jernih, tiba-tiba penuh noda.
Ini absurd, saya tahu. Tapi inilah yang terjadi: ketika kita sudah menyimpan sesuatu sekian lama di kepala, kita merasa memiliki hak eksklusif atasnya. Padahal tidak. Dunia tidak pernah memberi kita hak eksklusif atas apapun, kecuali mungkin atas rasa sakit kita sendiri.
Lalu saya mulai bertanya: apakah saya benar-benar ingin motor itu? Atau saya hanya ingin membuktikan sesuatu? Kepada siapa? Kepada istri yang sudah jelas lebih rasional? Kepada perempuan yang tidak suka saya dan tidak akan pernah peduli apakah saya punya motor atau tidak? Atau kepada diri saya sendiri—laki-laki yang terkadang masih merasa seperti anak kecil yang ingin menunjukkan mainan barunya ke teman-teman?
Saya teringat percakapan dengan seorang teman lama. Waktu itu kami sedang ngobrol santai di warung kopi, dan dia bilang: "Tahukah kamu, kebanyakan keinginan kita sebenarnya bukan keinginan kita. Keinginan itu datang dari melihat orang lain punya, lalu otak kita bilang 'aku juga mau'."
Waktu itu saya tertawa dan bilang dia terlalu filosofis untuk anak SMA. Tapi sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya mengerti maksudnya. Motor itu mungkin memang keren, tapi apakah saya benar-benar membutuhkannya? Atau saya hanya ingin merasakan apa yang orang lain rasakan ketika mereka melihat diri mereka di kaca spion motor kesayangan mereka?
Jawabannya tidak sederhana. Sebab keinginan, sejujurnya, tidak pernah sederhana. Keinginan itu seperti rambut—satu helai saja bisa membuat kita gatal seharian.
Lalu saya mengingat sesuatu yang pernah saya baca: "Kita tidak memiliki keinginan. Keinginan yang memiliki kita." Saya tidak tahu siapa yang menulis itu, tapi kalimat itu terus berputar di kepala saya, seperti daun kering yang ditiup angin di halaman rumah yang sepi.
Motor XSR155 itu, di satu sisi, adalah simbol dari kemerdekaan. Kemerdekaan untuk bepergian tanpa ketergantungan, kemerdekaan untuk merasakan angin di rambut, kemerdekaan untuk pulang kerja dengan rute yang tidak selalu sama. Tapi di sisi lain, itu juga simbol dari keegoisan—keinginan untuk memiliki sesuatu yang mungkin tidak kami butuhkan, hanya untuk memuaskan sisi diri yang suka pamer.
Dan perempuan yang saya benci itu? Dia hanyalah cermin yang memantulkan kembali ketakutan saya. Ketakutan bahwa saya tidak istimewa. Bahwa keinginan saya, ternyata, sama seperti keinginan orang lain. Bahwa saya tidak lebih unik dari siapapun. Dan itu—saya akui—adalah pukulan bagi ego laki-laki yang selama ini merasa berhak atas hal-hal eksklusif.
Di malam-malam sebelum tidur, ketika istri sudah memejamkan mata dan anak-anak sudah bermimpi tentang hal-hal yang tidak saya mengerti, saya sering membuka media sosial dan melihat lagi motor itu. Kadang dari akun resmi, kadang dari review orang, kadang—dengan bodohnya—dari akun perempuan itu. Dan setiap kali saya melihatnya, perasaan itu muncul lagi. Bukan kagum, bukan iri, tapi semacam nyeri tumpul di area yang tidak terlihat.
Saya tidak akan mengatakan bahwa saya sudah rela. Karena saya tidak rela. Ada bagian dari diri saya yang masih ingin membeli motor itu—entah itu besok, bulan depan, atau tahun depan. Tapi saya mulai mengerti bahwa keinginan itu, seperti semua keinginan lainnya, hanyalah tamu yang datang dan pergi. Ia hanya menetap selama kita memberikan makanan untuknya. Dan makanan untuk keinginan adalah perhatian.
Saya memilih untuk tidak memberi perhatian terlalu banyak. Saya memilih untuk membiarkan khayalan itu—XSR hijau gelap, boncengan istri di sore hari, angin yang menyapa—menjadi sebuah film pendek di kepala yang kadang saya putar ulang sebelum tidur. Tanpa harus mewujudkannya. Tanpa harus memilikinya.
Karena saya belajar bahwa memiliki bukanlah satu-satunya cara untuk menikmati sesuatu. Kadang, cukup dengan membayangkannya. Kadang, cukup dengan membiarkan ia menjadi mimpi yang nggak harus ditangkap. Seperti burung yang terbang tinggi—kita bisa menikmati keindahannya tanpa harus mengurungnya di sangkar.
Dan sekarang, ketika saya melihat motor XSR155 melintas di jalan—hijau gelap, tangki bundar, garis retro—saya tidak lagi merasakan sakit yang dulu. Yang tersisa hanyalah semacam kangen yang tidak jelas, seperti kangen pada masa remaja yang bahkan tidak saya alami dengan baik. Saya tersenyum, menggeleng, lalu melanjutkan perjalanan dengan motor tua yang masih setia menemani.
Mungkin suatu hari nanti saya akan punya motor baru. Mungkin tidak. Tapi yang saya tahu, perasaan ganjal itu perlahan-lahan mulai menghilang. Bukan karena saya memaafkan perempuan itu, atau karena saya berhenti menginginkan motor itu, tapi karena saya mulai menerima bahwa keinginan bisa hadir tanpa harus terwujud. Dan bahwa menjadi dewasa, sejujurnya, adalah belajar untuk hidup berdampingan dengan keinginan-keinginan yang tidak pernah kesampaian.
— Pada akhirnya, yang tersisa dari khayalan itu bukanlah motor, melainkan sebuah fragmen tentang bagaimana kita belajar melepas keinginan egois, dan memilih untuk tetap berdiri meski perasaan ganjal itu masih tertinggal di dada. —
The Contaminated XSR Fantasy
— Fragments of Life, Middle Chapter —
I don't remember exactly when I first saw that motorcycle. Maybe it was an Instagram ad, or maybe it popped up in a YouTube recommendation. What I do remember—and this is strange—is the feeling. Not ordinary admiration, but something like a click in my chest that spread all the way to my fingertips.
XSR155. Dark green. A round tank with retro lines that reminded me of the old motorcycles I used to see in my father's vintage magazines. It looked like a hybrid of past and future—classic style, but with modern technology. And in my head, within minutes, it was no longer just a motorcycle. It had already become part of my routine: riding through quiet morning streets, the morning breeze on my face, then stopping in front of my wife's office in the afternoon, watching her smile, and riding home together with her on the back seat.
Beautiful fantasy, right?
But life always has a way of ruining the perfect pictures in our heads. And this time, that way came in the form of—as old folks used to say—bird droppings falling at the wrong moment.
I found it by accident. A social media status. From someone. A woman who—how do I say this politely—her mere presence is enough to make my eyebrows furrow without permission. She posted a photo of the exact same XSR155. Dark green. Round tank. Retro lines. Complete with a caption that made my stomach churn: "This year's dream, hopefully I'll make it."
I stopped scrolling. I looked at the photo again. I looked again. I closed my phone. I opened it again. Like someone who can't believe what they just saw, but can't stop verifying it either.
And that's where the problem lies.
Not because I'm not allowed to buy something someone else likes. Of course I am. But there was something else gnawing at my heart, and I didn't have a name for it. Like when you order your favorite meal, and suddenly someone you don't like orders the same thing, and suddenly the food tastes bland. Irrational, right? I know. I also know that this feeling—if I wrote it down and read it back—sounds childish. But feelings have never cared about logic. Feelings are like toddlers throwing tantrums in the supermarket, demanding toys, and not caring that their mother says "money is for groceries."
And then, as if God were playing a joke on confused humans, my wife sat beside me one night. We had just finished scheduling the children's tutoring sessions. Our wallet was thin, the monthly calculations were on the table, and the calculator was still glowing with numbers that never quite align with desire.
"I see you looking at that motorcycle a lot," she said. Soft. Not accusing, but not releasing either.
I nodded. "Yeah. I've been thinking about it."
She paused for a moment. Then she said the sentence I knew she would say, but hearing it still made my chest feel full—not tight, but full of something hard to articulate.
"Let's focus on the kids first, okay?"
And that's when I realized: there were two worlds colliding in my head. One world where I'm still a man with an ego that needs to be celebrated, who needs to own something I'm proud of, who needs to feel the sensation of morning wind on empty streets on his dream motorcycle. And another world, where I am a father, a husband, who must choose between personal desire and responsibilities that aren't up for negotiation.
I also realized this wasn't about the motorcycle. This was about me, perhaps screaming in silence: "I still exist, you know. I still have desires, I still have small dreams." But that scream never came out. It only echoed in the space between my chest wall and ribs.
That motorcycle, somehow, became a symbol of all that. And when I found out that the woman I despise—I realize "hate" might be too strong, but "dislike" feels too mild—also wanted the same bike, something broke. Not on that motorcycle, not in that woman, but inside my head. An image that was once clear, suddenly full of stains.
This is absurd, I know. But here's what happened: when we hold onto something in our minds for long enough, we feel like we have exclusive rights to it. But we don't. The world never grants us exclusive rights to anything, except perhaps to our own pain.
And then I started to wonder: did I really want that motorcycle? Or did I just want to prove something? To whom? To my wife who is clearly more rational? To the woman who dislikes me and will never care whether I have a motorcycle or not? Or to myself—a man who sometimes still feels like a little kid wanting to show off his new toy to friends?
I remembered a conversation with an old friend. We were chatting casually at a coffee shop, and he said: "You know, most of our desires aren't really our desires. They come from seeing other people have something, and our brain tells us 'I want that too.'"
Back then I laughed and said he was too philosophical for a high school kid. But now, years later, I understand what he meant. That motorcycle might indeed be cool, but did I really need it? Or did I just want to feel what others felt when they saw themselves in the side mirror of their beloved motorcycle?
The answer wasn't simple. Because desire, honestly, is never simple. Desire is like hair—one strand alone can keep you itching all day.
Then I remembered something I once read: "We don't have desires. Desires have us." I don't know who wrote that, but the sentence kept spinning in my head, like dry leaves blown by wind in a quiet yard.
The XSR155 motorcycle, on one hand, was a symbol of freedom. Freedom to travel without dependency, freedom to feel the wind in your hair, freedom to come home from work via a different route each time. But on the other hand, it was also a symbol of selfishness—the desire to have something we might not actually need, just to satisfy that part of ourselves that likes to show off.
And that woman I despise? She was just a mirror reflecting my own fear. The fear that I'm not special. That my desires, it turns out, are just like everyone else's. That I'm not more unique than anyone. And that—I admit—was a blow to a man's ego that has long felt entitled to exclusive things.
On nights before sleep, when my wife's eyes are already closed and the children are dreaming about things I don't understand, I often open social media and look at that motorcycle again. Sometimes from the official account, sometimes from reviews, sometimes—foolishly—from that woman's account. And every time I see it, that feeling returns. Not admiration, not envy, but a kind of dull ache in an invisible spot.
I won't say I've let go. Because I haven't. There's still a part of me that wants to buy that motorcycle—whether tomorrow, next month, or next year. But I'm starting to understand that desire, like all desires, is just a guest that comes and goes. It only stays as long as we feed it. And the food for desire is attention.
I've chosen not to give it too much attention. I've chosen to let that fantasy—dark green XSR, my wife on the back seat in the afternoon, the wind greeting us—remain a short film in my head that I sometimes replay before sleep. Without having to make it real. Without having to own it.
Because I've learned that owning isn't the only way to enjoy something. Sometimes, just imagining it is enough. Sometimes, just letting it remain a dream that doesn't have to be caught is enough. Like a bird flying high—we can enjoy its beauty without having to cage it.
And now, when I see an XSR155 pass by on the road—dark green, round tank, retro lines—I no longer feel the old pain. What remains is just a kind of vague longing, like nostalgia for a teenage years I didn't even experience well. I smile, shake my head, and continue my journey on the old motorcycle that still faithfully accompanies me.
Maybe someday I'll own a new motorcycle. Maybe not. But what I do know is that the nagging feeling is slowly fading. Not because I've forgiven that woman, or because I've stopped wanting that motorcycle, but because I'm starting to accept that a desire can exist without being fulfilled. And that being an adult, honestly, is learning to live alongside the desires that never quite come true.
— In the end, what remains of that fantasy isn't the motorcycle, but a fragment about how we learn to let go of selfish desires, and choose to keep standing even when that nagging feeling still lingers in our chest. —
Thank you for stopping by! If you enjoy the content and would like to show your support, how about treating me to a cup of coffee? �� It’s a small gesture that helps keep me motivated to continue creating awesome content. No pressure, but your coffee would definitely make my day a little brighter. ☕️ Buy Me Coffee

Posting Komentar untuk "Khayalan XSR yang Tercemar"