Menunggu di Sela-sela Macet
Menunggu di Sela-sela Macet
— untuk janji yang hanya diingat oleh satu orang —
Macet. Kata itu sudah seperti saudara tua di Jakarta. Tapi kalau kau sudah janji, macet bukan alasan. Macet cuma alasan kalau kau tidak benar-benar ingin datang. Kalau kau ingin datang, kau akan tetap datang, walaupun harus merayap di jalanan selama dua jam, tiga jam, atau sampai mobilmu kehabisan bensin dan kakimu pegal karena terus menginjak pedal rem.
Aku tahu ini. Karena aku melakukannya setiap hari.
Janji itu muncul di sebuah malam biasa. Bukan malam spesial. Bukan ulang tahun, bukan hari jadi. Hanya malam Selasa di mana kami sedang makan malam, dan istriku bercerita tentang betapa lelahnya dia pulang sendiri naik ojek online. Aku dengar, lalu aku bilang: "Sudah, nanti aku jemput saja."
Mudah, kan? Kata-kata itu keluar tanpa beban. Tanpa mikir, tanpa hitung-hitung, tanpa pertimbangan soal bensin, waktu, atau macet yang akan menghadang. Kata-kata keluar karena memang ingin keluar. Itu janji, dan kala itu aku percaya janji cukup untuk membuat segalanya lebih ringan.
Dan sejak itu, setiap hari setelah pulang kerja, aku bergerak dari Jakarta Utara menuju Jakarta Barat. Seperti ritual. Seperti zikir. Seperti sesuatu yang tidak boleh kutinggalkan karena kalau kutinggalkan, aku bukan lagi orang yang menepati janji.
Tapi yang menarik begini: ritual ini tidak pernah berjalan mulus.
Kadang-kadang aku sampai di kantornya, di lobi bawah, dan tidak ada kabar. Tak ada pesan, tak ada telepon. Hanya deru AC di lobi dan lampu-lampu kantor yang mulai redup satu per satu. Aku duduk di sofa kecil di sana, atau berdiri di dekat pintu masuk, melihat ponsel dan berharap layarnya menyala. "Sebentar lagi," kataku pada diri sendiri. "Mungkin dia masih rapat."
Jam berjalan. Dari pukul setengah lima menjadi pukul lima, lalu setengah enam. Kadang lebih.
Ponselku tetap gelap. Aku menatap layar itu, menatapnya lebih lama daripada biasanya, seolah-olah tatapan bisa memaksa pesan masuk. Tapi pesan itu tidak datang. Hanya wallpaper foto kami berdua yang tersenyum, diambil di suatu tempat di mana waktu tidak terasa begitu berat.
Lalu jam menunjukkan pukul enam, dan aku masih di sana. Masih menunggu. Masih tanpa kabar.
Di situlah bagian anehnya. Aku marah, tapi aku tidak tahu kepada siapa marah harus kusampaikan. Kepada macet? Sudah biasa. Kepada kantor yang membuatnya lembur? Itu kerjaan. Kepada dia yang tidak kabari? Ah, itu yang paling rumit.
Karena ketika akhirnya dia muncul, dengan langkah tergesa-gesa dan ekspresi lelah, dan aku bertanya—hati-hati, dengan nada yang kujaga agar tidak terdengar menuduh—"Kenapa nggak kabar dari tadi?", dia malah terlihat tersinggung. "Aku sibuk, Mas. Kamu pikir aku di sana main-main? Rapat dadakan. Nggak sempat lihat HP." Dan kemudian, entah bagaimana, percakapan berubah. Aku yang meminta maaf. Ya, aku.
"Maaf," kataku. "Maaf aku nanya begitu. Maaf aku nggak sabar."
Janji, yang aku ucapkan karena cinta, tiba-tiba berubah menjadi utang. Dan dia yang berutang kepadaku malah merasa ditagih terlalu keras. Lalu aku yang menagih justru berubah menjadi orang yang salah.
Ini bukan pertama kalinya. Ini bukan juga yang terakhir. Ini pola. Sebuah pola yang kukenal persis seperti pola sidik jari di kepalaku: aku berjanji, aku menunggu, aku tidak mendapat kabar, aku bertanya, lalu aku minta maaf.
Ada yang aneh dengan ini, tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Aku hanya tahu ada semacam ketidakseimbangan yang diam-diam berjalan di antara kami, seperti sebuah meja yang mulai miring karena satu kakinya lebih pendek dari yang lain. Dan aku sering duduk di sisi yang lebih rendah, tanpa sadar.
Mungkin karena pendapatannya lebih besar. Atau mungkin karena pekerjaannya lebih serius, lebih penting, lebih banyak menuntut dari dia. Aku sering mengingatkan diriku sendiri: dia bekerja lebih keras, dia membawa pulang lebih banyak, dia menyumbang lebih besar untuk rumah tangga kita. Maka sudah sepantasnya aku yang menunggu. Itu logika pasar, logika ekonomi rumah tangga. Tapi hubungan bukan pasar. Atau kalau pun itu pasar, tidak ada satu pun dari kita yang membaca harga diri kita dengan benar.
Ada satu malam yang paling kuingat. Hari itu aku memutuskan untuk benar-benar menjemput. Bukan setengah-setengah. Bukan hanya sampai lobi. Aku parkir di basement, naik ke lantai tempat dia bekerja, dan duduk di ruang tunggu dekat ruang rapat. Aku ingin melihat dia, ingin menyapanya dengan senyum yang benar-benar tulus, ingin membuktikan bahwa janji itu sungguh-sungguh.
Dan aku menunggu. Satu jam. Dua jam. Hingga lampu di ruang rapat mati, dan kulihat sekelompok orang keluar dengan tatapan lelah. Dia salah satunya. Tapi dia tidak melihatku. Dia melangkah cepat ke arah lift, dan aku mengikutinya. "Sayang," panggilku pelan. Dia menoleh, terkejut. "Oh, Mas. Dari tadi di sini?"
Itu pertanyaannya. Bukan "maaf" atau "kok nggak bilang", tapi "dari tadi di sini?"
Lalu dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang sama, di tengah kepadatan yang tak pernah berubah, dia bilang: "Kamu nggak usah jemput aku kalau cuma bikin kamu capek. Aku bisa pulang sendiri."
Dan aku diam. Karena di situ aku sadar: bahwa janji yang kupegang ini, di matanya, mungkin hanya beban. Bukan bukti cinta, bukan gestur, tapi beban tambahan yang tidak perlu.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: menunggu dua jam di lobi dan tidak mendapat kabar, atau mendengar bahwa usaha ini tidak diinginkan.
Tapi aku tetap menjemput keesokan harinya. Dan hari setelahnya. Karena aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti tanpa merasa gagal. Karena janji adalah janji, dan kata-kata yang keluar dari mulutku, bagiku, adalah sesuatu yang harus ditepati—bahkan ketika orang yang menerima janji itu tampaknya sudah tidak terlalu peduli.
Pernah suatu malam aku mencoba tidak menjemput. Aku bilang, "Hari ini aku capek, Sayang. Pulang sendiri dulu, ya." Jawabannya datar: "Iya." Tidak ada kekecewaan yang kudengar, tidak ada protes. Hanya penerimaan yang datar, yang entah kenapa terasa lebih berat daripada kemarahan.
Aku jadi berpikir: mungkin selama ini aku yang terlalu serius. Mungkin baginya janji itu cuma basa-basi, cuma kata manis di waktu malam yang biasa. Dan aku yang menganggapnya sakral, mengubahnya menjadi monumen yang harus dijaga mati-matian, padahal dia tidak pernah minta monumen. Dia hanya minta diantar pulang, tapi tidak harus setiap hari, tidak harus dengan cara yang begitu sakral.
Tapi beginilah aku. Aku tipe yang memegang kata-kata. Aku tipe yang kalau bilang "aku datang", maka aku akan datang, bahkan kalau aku harus merayap di jalanan yang padat, bahkan kalau aku harus menunggu tanpa kabar, bahkan kalau aku harus menahan rasa sakit karena usaha ini tidak dianggap sebagai usaha.
Karena mungkin—dan ini hanya tebakan—di dalam setiap janji yang kuucapkan, ada sesuatu yang lebih besar dari janji itu sendiri. Ada semacam obsesi untuk tidak menjadi orang yang mengecewakan. Ada keinginan untuk menjadi seseorang yang bisa diandalkan, di tengah dunia yang serba tidak menentu. Dan ketika istriku tidak melihat itu, atau tidak menghargai itu, aku kehilangan pijakan. Aku tidak tahu lagi bagaimana mengukur nilai diriku.
Di rumah, di meja makan, kami berbicara banyak hal. Kami tertawa, kami bercerita, kami membagi kehidupan. Tapi tentang janji jemput ini, kami tidak pernah bicara tuntas. Selalu terputus, selalu berganti topik, selalu diakhiri dengan "sudahlah, nggak usah dibahas."
Dan aku, dengan segala kepengecutanku, selalu menurut.
Kadang aku membayangkan bagaimana kalau yang menunggu adalah dia. Bagaimana kalau aku yang terlambat pulang dan dia yang menunggu di lobi, ponselnya gelap, dan dia mulai berpikir: "Apa dia masih sayang aku?" atau "Apa aku layak untuk ditunggu?" Aku tidak tahu apakah dia pernah membayangkan itu. Aku tidak tahu apakah dia merasakan apa yang aku rasakan.
Yang aku tahu: di setiap perjalanan dari Utara ke Barat, di setiap kemacetan yang kulewati, di setiap detik menunggu yang terasa begitu panjang, aku sedang mengajarkan sesuatu pada diriku sendiri. Entah itu tentang kesabaran, tentang harga diri, atau tentang cara mencintai seseorang yang tampaknya tidak butuh dicintai dengan cara ini.
Dan di ujung jalan, ketika akhirnya aku memarkir mobil di depan rumah, ketika dia turun dan melangkah ke pintu tanpa menoleh, aku duduk sejenak di kursi kemudi. Aku melihat ponselku yang masih gelap, lalu aku melihat ke langit-langit mobil, dan aku menarik napas panjang.
Ini salah satu fragmen hidupku. Bukan yang paling besar, bukan yang paling dramatis. Tapi ini adalah salah satu yang paling sering terulang. Dan setiap kali terulang, aku berusaha mengingat—mengapa aku melakukannya. Untuk siapa. Dan apa yang membuatku tetap bertahan di sini, di sela-sela macet, menunggu tanpa kepastian.
Jawabannya tidak pernah jelas. Tapi aku masih di sini. Itu mungkin sudah cukup untuk saat ini.
— Jakarta, di antara lampu rem dan janji yang tak sampai —
Waiting in the Gaps of Traffic
— for promises remembered by only one person —
Traffic. It's like an old sibling in Jakarta. But if you've made a promise, traffic isn't an excuse. Traffic is only an excuse if you don't really want to come. If you want to come, you'll come anyway, even if you have to crawl along the road for two hours, three hours, or until your car runs out of gas and your foot aches from constantly pressing the brake pedal.
I know this. Because I do it every day.
The promise appeared on an ordinary night. Not a special night. Not a birthday, not an anniversary. Just a Tuesday evening when we were having dinner, and my wife was telling me how tired she was of going home alone by online motorcycle taxi. I listened, and then I said: "Alright, I'll pick you up from now on."
Easy, right? The words came out without weight. Without thinking, without calculating, without considering gas, time, or the traffic that would stand in the way. The words came out because they wanted to come out. That was a promise, and back then I believed that a promise was enough to make everything lighter.
And since then, every day after work, I move from North Jakarta to West Jakarta. Like a ritual. Like a dhikr. Like something I can't leave behind, because if I left it behind, I wouldn't be the person who keeps their promises anymore.
But here's the interesting part: this ritual never runs smoothly.
Sometimes I arrive at her office, in the lobby downstairs, and there's no news. No message, no call. Just the hum of the AC in the lobby and the office lights starting to dim one by one. I sit on the small sofa there, or stand near the entrance, looking at my phone and hoping the screen will light up. "Soon," I tell myself. "Maybe she's still in a meeting."
The hours pass. From 4:30 to 5:00, then 5:30. Sometimes more.
My phone stays dark. I stare at the screen, longer than usual, as if staring could force a message to come through. But the message doesn't come. Just the wallpaper of us smiling, taken somewhere where time didn't feel so heavy.
Then the clock hits six, and I'm still there. Still waiting. Still without news.
That's where the strange part begins. I'm angry, but I don't know who to direct my anger toward. The traffic? That's normal. The office that makes her work late? That's work. Her for not giving news? Ah, that's the most complicated one.
Because when she finally appears, with hurried steps and a tired expression, and I ask—carefully, with a tone I try to keep from sounding accusatory—"Why didn't you send me any news all this time?", she actually looks offended. "I was busy. You think I was just playing around there? An impromptu meeting. Didn't have time to check my phone." And then, somehow, the conversation shifts. I'm the one who apologizes. Yes, me.
"Sorry," I say. "Sorry I asked that. Sorry I wasn't patient."
The promise, which I made out of love, suddenly turns into a debt. And she who owes me actually feels that I'm demanding too much. Then I, the one demanding, end up being the one in the wrong.
This isn't the first time. This isn't the last either. It's a pattern. A pattern I recognize as clearly as the fingerprint on my mind: I promise, I wait, I don't get news, I ask, then I apologize.
There's something strange about this, but I can't explain it precisely. I only know there's some kind of imbalance quietly walking between us, like a table starting to tilt because one leg is shorter than the others. And I often sit on the lower side, without realizing it.
Maybe because her income is larger. Or maybe because her job is more serious, more important, demands more from her. I often remind myself: she works harder, she brings home more, she contributes more to our household. So it's only fitting that I'm the one waiting. That's market logic, household economy logic. But relationships aren't markets. Or even if they are, not one of us is reading our self-worth correctly.
There's one night I remember most clearly. That day I decided to really pick her up. Not halfway. Not just to the lobby. I parked in the basement, went up to her floor, and sat in the waiting area near the meeting room. I wanted to see her, wanted to greet her with a truly sincere smile, wanted to prove that the promise was real.
And I waited. One hour. Two hours. Until the lights in the meeting room went off, and I saw a group of people come out with tired looks. She was one of them. But she didn't see me. She walked quickly toward the elevator, and I followed her. "Honey," I called softly. She turned, surprised. "Oh. You've been here all this time?"
That was her question. Not "sorry" or "why didn't you tell me", but "you've been here all this time?"
Then on the way home, in the same car, in the middle of the same unchanging density, she said: "You don't have to pick me up if it only tires you out. I can go home on my own."
And I was silent. Because right there I realized: that the promise I held onto, in her eyes, might just be a burden. Not proof of love, not a gesture, but an unnecessary additional weight.
I don't know which hurts more: waiting two hours in the lobby without any news, or hearing that this effort isn't wanted.
But I still went to pick her up the next day. And the day after. Because I don't know how to stop without feeling like I've failed. Because a promise is a promise, and the words that come out of my mouth, for me, are something that must be kept—even when the person receiving the promise no longer seems to care much.
One night I tried not to pick her up. I said, "I'm tired today. Go home on your own first, okay?" The answer was flat: "Okay." There was no disappointment I could hear, no protest. Just a flat acceptance, which somehow felt heavier than anger.
I started to think: maybe all this time I was the one being too serious. Maybe for her, that promise was just small talk, just sweet words on an ordinary night. And I, who considered it sacred, turned it into a monument that must be fiercely guarded, when she never asked for a monument. She just asked to be taken home, but not every day, not in such a sacred way.
But this is how I am. I'm the type who holds onto words. I'm the type who, if I say "I'm coming," then I will come, even if I have to crawl through dense streets, even if I have to wait without news, even if I have to endure the pain of this effort not being recognized as an effort.
Because maybe—and this is just a guess—inside every promise I make, there's something bigger than the promise itself. There's some kind of obsession with not becoming a disappointment. There's a desire to become someone who can be relied upon, in a world that's so uncertain. And when my wife doesn't see that, or doesn't appreciate it, I lose my footing. I no longer know how to measure my own worth.
At home, at the dinner table, we talk about many things. We laugh, we share stories, we live life together. But about this pickup promise, we never finish the conversation. It always gets cut off, always changes topic, always ends with "let's just not talk about it."
And I, with all my cowardice, always comply.
Sometimes I imagine what it would be like if she were the one waiting. What if I were the one coming home late and she were the one waiting in the lobby, her phone dark, starting to think: "Does he still love me?" or "Am I worth waiting for?" I don't know if she's ever imagined that. I don't know if she feels what I feel.
What I do know: on every journey from North to West, in every traffic jam I pass through, in every second of waiting that feels so long, I'm teaching myself something. Whether it's about patience, about self-worth, or about how to love someone who apparently doesn't need to be loved this way.
And at the end of the road, when I finally park the car in front of the house, when she gets out and walks to the door without looking back, I sit for a moment in the driver's seat. I look at my phone, still dark, then I look at the car ceiling, and I take a long breath.
This is one of the fragments of my life. Not the biggest, not the most dramatic. But this is one of the ones that repeats the most often. And every time it repeats, I try to remember—why I do it. For whom. And what keeps me here, in the gaps of traffic, waiting without certainty.
The answer is never clear. But I'm still here. That might be enough for now.
— Jakarta, between brake lights and promises that never fully arrive —

Posting Komentar untuk "Menunggu di Sela-sela Macet"